Kemarin, Kampung Batik Panca Mukti kedatangan tamu yang tak biasa. Kepala Sekolah SMP Islam Al Azhar 52 hadir bersama 16 orang guru dan seratus anak didik kelas VII. Mereka datang bukan sekadar berkunjung, melainkan menimba makna dalam sebuah field trip sebuah perjalanan ilmu yang mempertemukan pena, kain, dan peradaban. Empat bus besar berderet, bahkan desa kami seakan terkejut menerima gelombang tamu sebesar itu; tempat parkir pun terasa sempit oleh keberkahan yang datang bertubi-tubi.
Di hadapan mereka, saya bertutur sejenak tentang Kerajaan Sungai Lemau tentang jejak sejarah yang mengalir seperti sunga, lalu saya sambungkan dengan filosofi membatik: bagaimana canting mengajarkan kesabaran, bagaimana malam menuntut ketekunan, dan bagaimana setiap garis adalah cermin perjalanan hidup manusia. Batik bukan sekadar kain; ia adalah doa yang dituliskan dengan tangan, pikiran, dan hati.
Usai itu, saya berbincang dengan sang kepala sekolah seorang pendidik dari lembaga yang menjadi rujukan. Saya bertanya, mengapa memilih SMP, bukan MTs ? Ia menjawab dengan tenang dan terang: regulasi pendidikan dan anggaran berada di bawah Kemendikdasmen, maka jalan itulah yang mereka tempuh tanpa harus berbelit ke kementerian lain. Sebuah jawaban yang lugas, namun sarat makna kebijakan.
Saya lanjutkan pertanyaan: apakah masuk ke SMP Islam Al Azhar melalui seleksi ? Ia tersenyum dan berkata, “Untuk mendapatkan yang berkualitas, tentu harus diseleksi.” Lalu saya bertanya lagi tentang SPP bulanan. Jawabnya singkat namun tegas: tujuh ratus lima puluh ribu rupiah setiap bulan.
Dari percakapan sederhana itu, saya menangkap satu hikmah besar : setiap produk yang bermutu pasti memiliki pembeli. Nilai akan selalu menemukan jalannya, dan kualitas tidak pernah kehilangan peminatnya. Keyakinan itu kian menguatkan langkah saya bahwa apa yang sedang kami bangun di Kampung Batik Panca Mukti bukanlah angan-angan, melainkan jalan peradaban yang sedang menemukan pasarnya sendiri.
#SalamLiterasi
Kemarin, Kampung Batik Panca Mukti kedatangan tamu yang tak biasa. Kepala Sekolah SMP Islam Al Azhar 52 hadir bersama 16 orang guru dan seratus anak didik kelas VII. Mereka datang bukan sekadar berkunjung, melainkan menimba makna dalam sebuah field trip sebuah perjalanan ilmu yang mempertemukan pena, kain, dan peradaban. Empat bus besar berderet, bahkan desa kami seakan terkejut menerima gelombang tamu sebesar itu; tempat parkir pun terasa sempit oleh keberkahan yang datang bertubi-tubi.
Di hadapan mereka, saya bertutur sejenak tentang Kerajaan Sungai Lemau tentang jejak sejarah yang mengalir seperti sunga, lalu saya sambungkan dengan filosofi membatik: bagaimana canting mengajarkan kesabaran, bagaimana malam menuntut ketekunan, dan bagaimana setiap garis adalah cermin perjalanan hidup manusia. Batik bukan sekadar kain; ia adalah doa yang dituliskan dengan tangan, pikiran, dan hati.
Usai itu, saya berbincang dengan sang kepala sekolah seorang pendidik dari lembaga yang menjadi rujukan. Saya bertanya, mengapa memilih SMP, bukan MTs ? Ia menjawab dengan tenang dan terang: regulasi pendidikan dan anggaran berada di bawah Kemendikdasmen, maka jalan itulah yang mereka tempuh tanpa harus berbelit ke kementerian lain. Sebuah jawaban yang lugas, namun sarat makna kebijakan.
Saya lanjutkan pertanyaan: apakah masuk ke SMP Islam Al Azhar melalui seleksi ? Ia tersenyum dan berkata, “Untuk mendapatkan yang berkualitas, tentu harus diseleksi.” Lalu saya bertanya lagi tentang SPP bulanan. Jawabnya singkat namun tegas: tujuh ratus lima puluh ribu rupiah setiap bulan.
Dari percakapan sederhana itu, saya menangkap satu hikmah besar : setiap produk yang bermutu pasti memiliki pembeli. Nilai akan selalu menemukan jalannya, dan kualitas tidak pernah kehilangan peminatnya. Keyakinan itu kian menguatkan langkah saya bahwa apa yang sedang kami bangun di Kampung Batik Panca Mukti bukanlah angan-angan, melainkan jalan peradaban yang sedang menemukan pasarnya sendiri.
#SalamLiterasi