You must have JavaScript enabled in order to use this theme. Please enable JavaScript and then reload this page in order to continue.
Logo Desa Panca Mukti
Logo Desa Panca Mukti
Panca Mukti

Kec. Pondok Kelapa, Kab. Bengkulu Tengah, Provinsi Bengkulu

SELAMAT DATANG DI WEBSITE PEMERINTAH DESA PANCA MUKTI PELAYANAN PUBLIK HARI SENIN - JUM'AT PUKUL O8.00 WIB -16.00 WIB INFORMASI

MENENUN PERADABAN DARI DESA

Administrator 29 Desember 2025 Dibaca 30 Kali
MENENUN PERADABAN DARI DESA

MENENUN  PERADABAN DARI DESA:
Ketika Sebuah Desa  Adalah Selembar Kain Batik yang Hidup

Sebuah desa, jika direnungi dengan hati yang jernih,
tidak pernah lahir sebagai kumpulan rumah semata.
Ia adalah selembar kain batik yang hidup
ditulis perlahan oleh waktu,
diwarnai oleh doa,
dan disempurnakan oleh akhlak manusia yang tinggal di dalamnya.

Tidak semua orang mampu membaca desa dengan cara ini.
Sebagian melihatnya hanya sebagai wilayah administratif,
angka statistik,
atau peta pembangunan yang menunggu anggaran.

Padahal, desa memiliki bahasa yang lebih dalam
bahasa simbol, makna, dan sejarah.
Dan batik adalah metafora paling jujur
untuk membaca peradaban desa.

Setiap Kampung adalah Motif

Dalam selembar batik,
tidak pernah ada satu motif yang berdiri sendiri.
Keindahan justru lahir dari keberagaman pola
yang saling mengisi,
bukan saling meniadakan.

Begitu pula sebuah desa.

Desa Panca Mukti, misalnya,
bukan sekadar nama geografis,
melainkan pertemuan sejarah.
Ia terdiri dari lima kampung:
Banyumas, Magelang, Pati, Semarang, dan Pekalongan
lima nama yang bukan hanya penanda asal-usul,
melainkan ingatan kolektif.

Setiap kampung membawa cerita:
cara bertani, cara beribadah,
cara bertutur, bahkan cara diam.

Banyumas dengan kesederhanaannya,
Magelang dengan keteduhan tradisi,
Pati dengan ketekunan,
Semarang dengan keterbukaan,
dan Pekalongan dengan kehalusan rasa batiknya.

Jika desa dipaksakan menjadi seragam,
ia kehilangan jiwanya.
Namun jika perbedaan itu dirangkai sebagai prinsip hidup,
maka desa tumbuh sebagai peradaban,
bukan sekadar permukiman.

Inilah tasybīh yang harus dipahami:
desa bukan dicat satu warna,
tetapi dirajut dari banyak motif.

Setiap Rumah adalah Titik Malam

Dalam proses membatik,
titik-titik malam yang kecil itulah
yang justru menentukan arah motif.
Tanpa titik,
garis kehilangan pijakan.
Begitu pula dalam membangun desa.
Rumah bukan sekadar bangunan fisik,
tetapi ruang pembentukan akhlak.
                                                                                                                                                                                                    Maka pembangunan pertama yang harus ditegakkan
bukanlah jalan atau gedung,
melainkan keluarga.
Keluarga yang sakinah tenang,
mawaddah hangat,
dan warahmah penuh kasih.
Jika rumah retak,
desa hanya akan menjadi peta tanpa makna.
Jika rumah kuat,
desa mampu bertahan dari badai zaman.

Inilah kināyah peradaban:
negara besar lahir dari rumah-rumah kecil
yang dijaga dengan cinta dan nilai.

Setiap Warga adalah Garis Takdir

Tak ada satu garis pun dalam batik
yang berjalan sendiri.
Ia saling mengikat,
saling menahan,
saling menguatkan.

Begitulah manusia di dalam desa

Setiap warga membawa takdirnya masing-masing,
namun takdir itu tidak berdiri terpisah.
Ia bertaut dalam satu kain kehidupan.

Dan Islam mengajarkan dengan jelas:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum
sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra‘d: 11)

Ayat ini bukan ancaman,
melainkan undangan peradaban.

Takdir sosial bukan garis mati.
Ia bisa ditata ulang,
diperhalus,
bahkan diperindah.

Namun perubahan itu tidak dimulai dari luar,
melainkan dari cara pandang.

Mengubah Takdir Dimulai dari Mengubah Visi

Dalam membatik,
kesalahan paling fatal bukan pada warna,
melainkan pada desain awal.

Begitu pula desa.

Jika visinya sempit,
maka kebijakan akan dangkal.
Jika visinya hanya mengejar proyek,
maka pembangunan akan cepat rusak.

Mengubah takdir desa
harus dimulai dengan mengubah visi:
dari sekadar membangun fisik
menjadi menumbuhkan peradaban.

Inilah pesan halus namun tegas
bagi kementerian desa PDT "Bangun Desa, Bangun Indonesia” dan pemerintah daerah
yang hari ini mengusung slogan
"Membangun dari Bawah."

Bangun desa atau membangun dari bawah
bukan berarti hanya turun ke desa,
memotret kegiatan,
lalu kembali ke meja kekuasaan.

Membangun dari bawah berarti:
mendengar sebelum memerintah,
memahami sebelum merancang,
dan mendampingi sebelum menilai.

Seperti membatik 
tidak bisa tergesa,
tidak bisa dipaksa.

Penutup: Desa sebagai Doa yang Sedang Ditulis

Desa adalah doa panjang
yang sedang ditulis oleh warganya sendiri.
Pemerintah bukan penulis utama,
melainkan penjaga agar doa itu tidak terhapus.

Jika desa diperlakukan sebagai kain murahan,
ia akan cepat robek.
Namun jika desa dihormati
sebagaimana batik pusaka,
ia akan diwariskan lintas generasi.

Dan kelak,
ketika orang bertanya
bagaimana peradaban Indonesia dibangun,
jawabannya bukan pada gedung tinggi,
melainkan pada desa-desa
yang ditata dengan visi,
dihidupi dengan akhlak,
dan dirajut dengan cinta.

Karena sejatinya,
peradaban besar selalu lahir
dari selembar kain yang ditulis dengan kesabaran.

Salam Literasi

Penulis adalah Founder Kampung Batik Panca Mukti  dan pernah menjadi Konsultan SDGs

MENENUN  PERADABAN DARI DESA:
Ketika Sebuah Desa  Adalah Selembar Kain Batik yang Hidup

Sebuah desa, jika direnungi dengan hati yang jernih,
tidak pernah lahir sebagai kumpulan rumah semata.
Ia adalah selembar kain batik yang hidup
ditulis perlahan oleh waktu,
diwarnai oleh doa,
dan disempurnakan oleh akhlak manusia yang tinggal di dalamnya.

Tidak semua orang mampu membaca desa dengan cara ini.
Sebagian melihatnya hanya sebagai wilayah administratif,
angka statistik,
atau peta pembangunan yang menunggu anggaran.

Padahal, desa memiliki bahasa yang lebih dalam
bahasa simbol, makna, dan sejarah.
Dan batik adalah metafora paling jujur
untuk membaca peradaban desa.

Setiap Kampung adalah Motif

Dalam selembar batik,
tidak pernah ada satu motif yang berdiri sendiri.
Keindahan justru lahir dari keberagaman pola
yang saling mengisi,
bukan saling meniadakan.

Begitu pula sebuah desa.

Desa Panca Mukti, misalnya,
bukan sekadar nama geografis,
melainkan pertemuan sejarah.
Ia terdiri dari lima kampung:
Banyumas, Magelang, Pati, Semarang, dan Pekalongan
lima nama yang bukan hanya penanda asal-usul,
melainkan ingatan kolektif.

Setiap kampung membawa cerita:
cara bertani, cara beribadah,
cara bertutur, bahkan cara diam.

Banyumas dengan kesederhanaannya,
Magelang dengan keteduhan tradisi,
Pati dengan ketekunan,
Semarang dengan keterbukaan,
dan Pekalongan dengan kehalusan rasa batiknya.

Jika desa dipaksakan menjadi seragam,
ia kehilangan jiwanya.
Namun jika perbedaan itu dirangkai sebagai prinsip hidup,
maka desa tumbuh sebagai peradaban,
bukan sekadar permukiman.

Inilah tasybīh yang harus dipahami:
desa bukan dicat satu warna,
tetapi dirajut dari banyak motif.

Setiap Rumah adalah Titik Malam

Dalam proses membatik,
titik-titik malam yang kecil itulah
yang justru menentukan arah motif.
Tanpa titik,
garis kehilangan pijakan.
Begitu pula dalam membangun desa.
Rumah bukan sekadar bangunan fisik,
tetapi ruang pembentukan akhlak.
                                                                                                                                                                                                    Maka pembangunan pertama yang harus ditegakkan
bukanlah jalan atau gedung,
melainkan keluarga.
Keluarga yang sakinah tenang,
mawaddah hangat,
dan warahmah penuh kasih.
Jika rumah retak,
desa hanya akan menjadi peta tanpa makna.
Jika rumah kuat,
desa mampu bertahan dari badai zaman.

Inilah kināyah peradaban:
negara besar lahir dari rumah-rumah kecil
yang dijaga dengan cinta dan nilai.

Setiap Warga adalah Garis Takdir

Tak ada satu garis pun dalam batik
yang berjalan sendiri.
Ia saling mengikat,
saling menahan,
saling menguatkan.

Begitulah manusia di dalam desa

Setiap warga membawa takdirnya masing-masing,
namun takdir itu tidak berdiri terpisah.
Ia bertaut dalam satu kain kehidupan.

Dan Islam mengajarkan dengan jelas:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum
sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra‘d: 11)

Ayat ini bukan ancaman,
melainkan undangan peradaban.

Takdir sosial bukan garis mati.
Ia bisa ditata ulang,
diperhalus,
bahkan diperindah.

Namun perubahan itu tidak dimulai dari luar,
melainkan dari cara pandang.

Mengubah Takdir Dimulai dari Mengubah Visi

Dalam membatik,
kesalahan paling fatal bukan pada warna,
melainkan pada desain awal.

Begitu pula desa.

Jika visinya sempit,
maka kebijakan akan dangkal.
Jika visinya hanya mengejar proyek,
maka pembangunan akan cepat rusak.

Mengubah takdir desa
harus dimulai dengan mengubah visi:
dari sekadar membangun fisik
menjadi menumbuhkan peradaban.

Inilah pesan halus namun tegas
bagi kementerian desa PDT "Bangun Desa, Bangun Indonesia” dan pemerintah daerah
yang hari ini mengusung slogan
"Membangun dari Bawah."

Bangun desa atau membangun dari bawah
bukan berarti hanya turun ke desa,
memotret kegiatan,
lalu kembali ke meja kekuasaan.

Membangun dari bawah berarti:
mendengar sebelum memerintah,
memahami sebelum merancang,
dan mendampingi sebelum menilai.

Seperti membatik 
tidak bisa tergesa,
tidak bisa dipaksa.

Penutup: Desa sebagai Doa yang Sedang Ditulis

Desa adalah doa panjang
yang sedang ditulis oleh warganya sendiri.
Pemerintah bukan penulis utama,
melainkan penjaga agar doa itu tidak terhapus.

Jika desa diperlakukan sebagai kain murahan,
ia akan cepat robek.
Namun jika desa dihormati
sebagaimana batik pusaka,
ia akan diwariskan lintas generasi.

Dan kelak,
ketika orang bertanya
bagaimana peradaban Indonesia dibangun,
jawabannya bukan pada gedung tinggi,
melainkan pada desa-desa
yang ditata dengan visi,
dihidupi dengan akhlak,
dan dirajut dengan cinta.

Karena sejatinya,
peradaban besar selalu lahir
dari selembar kain yang ditulis dengan kesabaran.

Salam Literasi

Bagikan Artikel Ini
Beri Komentar
Komentar baru terbit setelah disetujui oleh admin
CAPTCHA Image

APBDes 2026 Pelaksanaan

APBDes 2026 Pendapatan

APBDes 2026 Pembelanjaan